ISOLASI PATOGEN TANAMAN DARI TANAMAN SAKIT
ISOLASI PATOGEN TANAMAN DARI TANAMAN SAKIT
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Penyakit tanaman adalah suatu keadaan dimana
tumbuhan atau tanaman mengalami gangguan fungsi fisiologis secara terus-menerus
sehingga menimbulkan gejala dan tanda. Gangguan
fisiologis ini disebabkan oleh faktor biotik ( bakteri, cendawan, virus dan
nematoda ) maupun faktor abiotik (suhu, kelembaban dan unsur hara mineral)
(Agrios, 1996).
Untuk melakukan pengamatan terhadap pathogen baik
berupa bakteri maupun jamur di laboratorium, terlebih dahulu harus menumbuhkan
atau membiakkan bakteri atau jamur tersebut. Mikroorganisme
dapat berkembangbiak dengan alami atau dengan bantuan manusia.
Dengan berbagai teknik isolasi kita akan
coba mengetahui tekinik mana yang paling tepat dan paling baik untukpertumbuhan
bakteri atau mikroorganisme. Mikroorganisme
yang dikembangkan oleh manusia diantaranya melalui substrat yang disebut media.
Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan
dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan
untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai
susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan.
Salah satu cara untuk mengetahui apa yang menyebabkan
penyakit dilakukan suatu kegiatan berdasarkan Postulat Koch. Pada praktikum
kali ini menggunakan empat prinsip Postulat Koch. Koch memberikan rumusan berupa sejumlah
kondisi yang harus dipenuhi sebelum salah satu faktor biotik (organisme)
dianggap sebagai penyebab penyakit. Oleh
karena itu dilakukan praktikum isolasi patogen tanaman dari jaringan tanaman
sakit.
1.2.
Tujuan
Adapun tujuan diadakannya praktikum ini adalah :
1.
Untuk mendiagnosis
penyebab penyakit dengan metode Postulat Koch.
2.
Untuk mengetahui
pada hari keberapa patogen berkembang lebih cepat..
3.
Mengetahui
tahapan-tahapan dari Postulat Koch.
II.
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1.
Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
pisau, pinset, bunsen dan cawan petri, jarum ose.
Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
daun kopi, cabai, pisang, PDA, NA, air steril dan klorak.
2.2.
Cara Kerja
Adapun cara kerja yang digunakan pada praktikum ini
adalah sebagai berikut :
a.
Alat dan Bahan yang
digunakan disiapkan terlebih dahulu.
b.
Disiapkan daun kopi
yang menunjukkan gejala karat daun, cabai yang menunjukkan gejala antraknosa
dan bonggol pisang yang menunjukkan gejala layu bakteri.
c.
Pada daun kopi
jaringan daun yang sebagian menunjukkan gejala dan bagian lainnya tidak
dipotong dengan menggunakan pisau.
d.
Lalu diambil dengan
menggunakan pinset yang telah dipanaskan.
e.
Diselupkan potongan
daun tersebut ke dalam cawan petri yang berisi air steril, kemudian dimasukkan
dalam cawan petri ke-2 yang berisi klorak, setelah itu dimasukkandalam cawan
petri ke-3 yang berisi air steril.
f.
Setelah itu
dimasukkan dalam cawan petri yang berisi
media.
g.
Cawan petri ditutup
dan dieratkan dengan plastik wrap.
h.
Yang terakhir
adalah pemberian label.
i.
Begitu juga
perlakuan untuk cabai yang menunjukkan gejala antraknosa dan bonggol pisang
yang menunjukkan gejala layu bakteri.
j.
Yang membedakan
hanya pada bonggol pisang. Tidak menggunakan pinset, malainkan jarum ose.
III.
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1.
Hasil Pengamatan
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh hasil
sebagai berikut :
|
No.
|
Hari
Pengamatan
|
Gambar
|
Keterangan
|
|||
|
1.
|
Jum’at
17 Oktober 2014
|
Karat daun kopi
|
Belum terlihat adanya perubahan pada daun kopi
|
|||
|
Antraknosa pada cabai
![]() |
Terlihat perubahan warna pada cabai. Cabai hampir
tertutup oleh jamur.
|
|||||
|
|
|
Layu bakteri pada bonggol pisang
|
Sudah tampak adanya perbedaan, terdapat garis putih
bekas goresan jarum ose yang terdapat patogen.
|
|||
|
2.
|
Senin
20 Oktober 2014
|
Karat daun kopi
|
Terjadi perubahan pada daun kopi. Daun kopi berubah
warna menjadi hitam dan diselimuti bintik-bintk berwarna putih.
|
|||
|
Antraknosa pada cabai
|
Adanya perubahan warna dari cabai menjadi warna hijau
kusam dan diselimuti jamur.
|
|||||
|
|
|
Layu bakteri pada bonggol pisang
|
Warna goresan agak lebih cerah dari pengamatan
sebelumnya. Terdapat titik agak besar pada pinggir cawan berwarna coklat
kehitaman.
|
3.2.
Pembahasan
Robert Koch (1843
– 1910) seorang profesional dibidang kesehatan, memulai penelitian dengan
pendekatan ilmiah terhadap bidang mikrobiologi penyakit. Ia membuat aturan, yang kemudian dikenal
dengan nama Postulat Koch, yang sigunakan untuk menetapkan bahwa mikroorganisme
tertentu sebagai penyebab penyakit atau bukan.
Ada empat ketentuan di Postulat Koch, yaitu :
1.
Mikroorganisme
tertentu yang dicurigai harus selalu dijumpai berasosiasi dengan organisme yang
sakit.
2.
Mikroorganisme yang
dicurigai tersebut harus dapat dipisahkan (diisolasi) dari organisme sakit dan
dibiakkan menjadi biakan murni di laboratorium.
3.
Biakan murni
mikroorganisme yang dicurigai, akan menimbulkam penyakit yang sama jika dengan
sengaja dikeluarkan (diinokulasi) kepada organisme sejenis yang rentan.
4.
Dengan menggunakan
prosedur laboratorium, mikroorganisme yang sama harus dapat diperoleh dari
organisme rentan yang sakit karena sengaja ditulari.
Dari Postulat tersebut, Koch juga mengembangkan teknik
pembiakan mikroorganisme dan teknik pewarnaan pada mikroskopi mikroorganisme. Salah satu teknik pembiakan mikroorganisme
yang dikembangkan dan sangat membantu dalam dunia mikrobiologi yaitu menemukan
media tumbuh yang padat (Pracaya, 2007).
Penyakit karat daun yang disebabkan oleh patogen Hemilera vastatrix, penyakit ini
merupakan penyakit utama pada tanaman kopi arabika. Secara fisik, perkembangan penyakit karat daun
kopi dipengaruhi oleh patogen Hemilera
vastatrix, kondisi tanaman kopi, dan lingkungan kebun. Penyebarannya dari pohon ke pohon dapat
terjadi karena sentuhan dan bantuan percikan air. Gejala penyakit karat daun kopi jarang tampak
pada buah dan batang sehingga hanya terbatas pada daun. Secara khas penyakit ini dikenal seperti luka
berwarna kuning yang ditutupi noda yang tampak pada permukaan bagian bawah
daun. Pada luka yang masih muda tampak
noda kuning pucat dengan sporulasi yang jelas. Noda dapat berubah-ubah ukuran dan dapat
bersatu selama perkembangannya. Adanya
penyakit pada tanaman kopi dapat menimbulkan kerusakan serta kematian pada
tanaman. Hal ini akan berdampakpada
penurunan hasil produksi, adanya penurunan hasil produksi ini akan menimbulkan
kerugian. Kerugian yang terjadi dapat
berupa kerugian langsung maupun tidak. Pengendalian
penyakit karat daun pada tanaman kopi terbagi menjadi empat cara yaitu
pengendalian secara fisik, mekanis, kultur teknis, biologis dan kimia. Pengandalian penyakit secara mekanis dengan
memperkuat kebugaran tanaman melalui pemupukan berimbang, pemangkasan cabang
negatif, dan pengaturan naungan untuk mengurangi kelembaban kebun dan
memberikan sinar matahari yang cukup pada tanaman (Ferdias, 1992).
Penyakit antraknosa termasuk salah satu jenis penyakit
penting yang menyerang tanaman cabai karena bisa menghancurkan panen hingga 20
– 90%, terutama pada musim hujan. Gejala
yang dapat dikenali akibat serangan cendawan ini adalah buah yang terserang
terlihat bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk. Bintik-bintik ini
pada bagian tepi berwarna kuning, membesar dan memanjang. Sedangkan pada biji
dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat
menimbulkan rebah kecambah.
Cendawan C. capsici menyerang tanaman dengan menginfeksi jaringan
buah dan membentuk bercak coklat kehitaman yang kemudian meluas menjadi busuk
lunak. Serangan yang berat menyebabkan buah mengering dan keriput seperti
jerami. Pada bagian tengah bercak yang mengering terlihat kumpulan titik-titik
hitam dari koloni cendawan. Pengendalian
penyakit antraknosa :
a.
Gunakan bibit cabai
yang sehat, jika melakukan pembibitan cabai dari tanaman sendiri jangan
menggunakan dari tanaman cabai yang terserang antraknosa / patek.
b.
Gunakan varietas
cabai yang tahan terhadap penyakit patek. Contohnya cabai keriting lebih tahan terhadap
patek.
c.
Penanaman sebaiknya
dilakukan bukan dari bekas tanaman cabai, terong, tomat atau tanaman yang
sefamily solanaceae.
d.
Gunakan pupuk dasar
/ pemupukan dengan pupuk yang memiliki unsur N (Nitrogen) rendah, pemberian
unsur N yang berlebihan menjadikan tanaman cabai menjadi rentan (mudah
terserang) penyakit patek.
e.
Perbanyak unsur
Kalium dan Calsium untuk membantu pengerasan kulit buah cabai.
f.
Gunakan jarak tanam
yang ideal sesuai kebutuhan tanaman, usahakan jangan terlalu rapat agar tidak
terlalu lembab dan dapat mengurangi penyebaran penyakit.
g.
Gunakan mulsa
plastik agar terhindar dari penyebaran spora jamur melalui percikan air hujan
atau penyiraman.
h.
Gunakan peralatan
yang berbeda untuk menghindari penyebaran melaluialat pertanian yang digunakan.
i.
Lakukan pencegahan
dengan penyemprotan fungisida.
j.
Jika langkah diatas
telah dilakukan namun masih terjadi serangan patek maka dilakukan eradikasi
dengan segera membuang tanaman yang sakit atau membakarnya (Bos, 1990).
Penyakit layu bakteri pada tanaman pisang disebabkan oleh
bakteri Pseudomonas solanacearum. Kerugianyang ditimbulkan oleh penyakit ini
bisa mencapai 27% - 36%. Sampai saat ini
belum ada obat yang dapat menyembuhkan tanaman pisang dari penyakit ini. Bakteri Pseudomonas
sp dapat tahan lama di dalam tanah. Belum ada varietas pisang yang dapat tahan
oleh penyakit ini (Semangun, 2007).
Gejala tanaman yang terserang penyakit layu bakteri :
1.
Daun menguning
mulai dari daun yang muda.
2.
Jika pisang
dipotong atau batang dipotong keluar lendir berwarna putih keabu-abuan sampai
kecoklatan.
3.
Jika terserang buah
masih terlihat normal tapi jika dibuka buahnya telah busuk berwarna kuning
kemerahan.
4.
Tangkai buah juga
terjadi perubahan warna (Semangun, 1996).
Pevegahan yang dapat dilakukan :
1.
Jangan memindahkan
bibit dan tanah yang terserang ke daerah pertanaman.
2.
Gunakan bibit yang
bebas penyakit (dari daerah yang bebas penyakit layu bakteri dari kultur
jaringan).
3.
Pembungkusan buah
beberapa saat setelah jantung keluar.
4.
Sanitasi lahan,
tidak menanam pisang pada lahan bekas terong, cabai, tomat.
5.
Mensterilkan alat
yang digunakan.
6.
Perbaikan drainase
untuk mengurangi kelembaban tanah.
7.
Pemusnahan tanaman
sakit dengan cara dibakar.
8.
Memotong siklus
patogen dengan rotasi tanaman paling tidak selama satu tahun (Soesanto, 2006).
IV.
KESIMPULAN
Dari pengamatan yang telah dilakukan maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa :
1.
Isolasi bakteri
dapat dilakukan untuk memisahkan patogen dari lingkungan alami ke media buatan.
2.
Metode postulat
Koch digunakan untuk mengidentifikasi apakah penyakit yang menyerang tanaman
adalah patogan yang sama.
3.
Teknik yang
digunakan pada metode Postulat Koch ada empat tahap, yaitu asosiasi, isolasi,
inokulasi, dan reisolasi.
4.
Saat tahap
inokulasi perkembangan patogen lebih cepat pada hari ke-5, sudah tampak jelas
adanya perubahan.
5.
Penyakit layu
bakteri pada tanaman pisang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solonasearum.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G. N. 1996. Ilmu
Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Bos, L. 1990. Pengantar
Virologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Ferdias, S. 1992. Mikrobiologi
Pangan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Semangun, H. 1996. Pengantar
Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Semangun, H. 2007. Penyakit-penyakit
Tanaman Holtikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Soesanto, L. 2006. Penyakit
Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.







Komentar
Posting Komentar